Syarat dan Hukum Ijarah

Syarat dan Hukum Ijarah

Syarat dan Hukum Ijarah
Syarat dan Hukum Ijarah

Syarat-syarat Ijarah

1. Kerelaan dari pihak yang melaksanakan akad.
2. Ma’jur memiliki manfaat dan manfaatnya dibenarkan dalam islam,dan dapat dinilai atau diperhitungkan[5].
3. Syarat ijarah ‘Ain (sewa langsung)
a. Barang yang disewakann sudah ditentukan. Contohnya tidak sah jika menyewakan dua mobil tetapi belum ditentukan mana yang disewakan antara dua mobil tersebut.
b. Barang yang disewakan ada dan disaksikan oleh kedua belah pihak yang bertransaksi saat transaksi dilakukan. Contohnya apabila menyewakan rumah, mobil dan baju orang yang akan menyewakan dan yang akan menyewa harus ada pada tempat tersebut jika tidak ada maka tidak sah, kecuali kedua orang tersebut sudah melihat barangnya seblum akad.
c. Pemenuhan manfaat tidak boleh ditangguhkan dari waktu akad. Contohnya menyewakan rumah untuk tahun depan dan menyewakan diri untuk bekerja pada awal bulan depan hal yang dilakukan ini tidak sah kecuali memperpanjang waktu dalam menyewa.
4. Syarat ijarah Dzimmah (sewa tidak langsung)
a. Upah sewa harus diberikan langsung saat transaksi
b. Hendaknya, barang yang akan disewakan dijelaskan bentuk, macam dan sifatnya. Contohnya perusahaan yang menyediakan jasa pengiriman paket ke luar negri maka perusahaan tersebut harus menjelaskan transportasi apa yang akan digunakan, kendaraan besar atau kecil yang akan digunakan, dan jenis baru atau lama.

Hukum Dasar Ijarah

Hukum ijarah shahih adalah tetapnya kemanfaatan bagi penyewa, dan tetapnya upah bagi pekerja atau orang yang menyewakan ma’qud alaih, sebab ijarah termasuk jual beli, pertukaran, hanya saja dengan kemanfaatan.
Adapun hukum ijarah rusak, menurut ulama hanifiah jika penyewa telah mendapatkan manfaat tetapi orang yang menyewakan atau yang berkerja dibayar lebih kecil dari kesepakatan pada waktu akad. Bila kerusakan tersebut terjadi pada syarat. Akan tetap, jika kerusakan, disebabkan penyewa tidak memberikan jenis pekerjaan perjanjiannya, upah harus diberikan semestinya.
Jafar dan ulama syafiiyah berpendapat bahwa ijarah fasid sama dengan jual beli fasid, yakni harus dibayar sesuai dengan nilai atau ukuran yang dicapai oleh barang sewaan.

Baca Juga: