Pentingnya Inovasi Pendidikan

Pentingnya Inovasi Pendidikan

Pentingnya Inovasi Pendidikan

Pentingnya Inovasi Pendidikan
Pentingnya Inovasi Pendidikan

 

Dalam melakukan suatu inovasi

perlu adanya suatu perencanaan termasuk dalam melaksanakan dalam iovasi pendidikan, karena tanpa suatu rencana yang mantap proses inovasi tidak akan dapat terlaksana secara efektif. Setelah diketahui tentang suatu rencana inovasi dilanjutkan dengan pembicaraan tentang beberapa model inovasi pendidikan, kemudian diakhiri dengan pembicaraan tentang petunjuk untuk mengadakan inovasi pendidikan tersebut. Penjelasan tentang penerapan inovasi pendidikan di sekolah diharapkan dapat digunakan sebagai pedoman jika seorang guru atau kepala sekolah akan mengadakan inovasi atau suatu perubahan di sekolah tempatnya bertugas. Pengertian inovasi pendidikan yang dimaksudkan disini bisa jadi yang berasal dari pemerintah pusat dan bisa juga inovasi pendidikan yang berupa ide atau gagasan baru dalam memperbaiki sekolah di tempat guru dan kepala sekolah bertugas. Untuk dapat melaknakan suatu inovasi tersebut dengan baik, tampaknnya guru dan kepala sekolah perlu memahmai berbagai hal yang berkaitan dengan perencanaan inovasi, model inovasi, dan petunjuk tentang cara menerapakan inovasi pendidikan tersebut. Dengan wawasan yang lebih luas dan lengkap tentang inovasi pendidikan akan dapat membantu kelancaran proses pelaksanaan inovasi pendidikan.

Lembaga pendidikan formal seperti sekolah

dan perguruan tinggi merupakan bagian dari sistem sosial, oleh karena itu jika terjadi suatu perubahan dalam masyarakat, maka pendidikan formal juga akan mengalami perubahan, demikian juga sebaliknya jika lembaga pendidikan mengalami perubahan maka hasil perubahan tersebut akan mempengaruhi terhadap perubahan masyarakat. Dengan demikian sesungguhnya lembaga pendidikan memiliki beban ganda yaitu melestarikan nilai budaya tradisional dan mempersiapkan generasi muda agar mampu menghadapai tantangan kemajuan jaman (Ibrahim. 1988).

Ada dua faktor yang mendorong perlunya inovasi pendidikan

di sekolah dilakukan, pertama adalah kemauan sekolah untuk mengadakan respon terhadap tantangan dan kebutuhan masyarakat, dan yang kedua adanya usaha untuk menggunakan sekolah untuk memecahkan masalah yang dihadapi masyarakat. Sesungguhnya antara lembaga pendi-dikan dan masyarakat tersebut memmpunyai hubungan yang erat dan saling pengaruh-mempengaruhi (Ibrahim. 1988).
Agar dapat lebih dipahami tentang perlunya inovasi pendidikan tersebut, maka dapat dilihat dari tiga faktor yang sangat besar pengaruhnya terhadap kegiatan di sekolah, yaitu kegiatan belajar mengajar guru, faktor internal dan eksternal, dan faktor sistem pengelolaan pendidikan di sekolah sendiri.
Guru di sekolah dalam melaksanakan tugas belajar mengajarnya banyak memiliki kelemahan oleh karena itu maka dibutuhkan dan diadakan inovasi, beberapa kelemahannya tersebut adalah sebagai berikut di bawah ini.
  1. Guru. Keberhasilan guru dalam mengelola pembelajaran sangat ditentukan oleh hubungan interpersonal antar guru dengan siswa. Dengan kemampuan guru yang sama belum tentu menghasilkan prestasi belajar yang sama dalam kelas yang berbeda. Demikian juga sebaliknya kelas yang sama bila diajar oleh guru yang berbeda belum tentu dapat menghasilkan prestasi yang sama, walaupun para guru tersebut sudah memenuhi persyaratan sebagai guru yang profesional.
  2. Guru melakukan tugas dan kegiatan pembelajaran. Kegiatan belajar mengajar di kelas merupakan kegiatan yang terisolasi. Pada waktu sedang mengajar dia tidak mendapat balikan oleh teman sejawat dalammkelompoknya, tanpa diketahui oleh guru yang lainnya. Ia menganggap bahwa apa yang dilakukan oleh dirinya sebagai guru menganggap sebagai cara yang terbaik. Dengan demikian guru tidak akan mendapat kritik dalam rangka untuk mengembangkan profesinya.
  3. Guru melakukan tugas dan kegiatan pembelajaran, pembelajaran guru merupakan kegiatan yang terisolir, kritik dari teman guru yang lainnya akan tidak ada, maka apa yang dilakukan oleh guru di kelas seolah-olah merupakan hak mutlak tanggung jawabnya, orang lain tidak boleh ikut campur tangan, padahal apa yang dilakukannya mungkin masih banyak kekurangannya.
  4. Guru sulit emilih model pengelolaan pembelajaran karena belum ada kriteria yang baku tentang model pengelolaan pembelajaran yang baku yang menjamin efektif dalam mencapai tujuan pembelajaran. Masih ada beberapa variabel lain yang ikut mengkontribusi terhadap keberhasilan belajar murid.
  5. Guru kesulitan dalam menghadapi kondisi siswa yang berbeda-beda dalam berbagai dimensi, seperti dari segi fisik, mental intelektual, sifat, minat, bakat, dan sosial ekonominya. Dengan demikian seorang guru tidak mungkin akan dapat melayani siswa dengan memperhatikan semua perebedaan-perbedaan siswa tersebut.
  6. Guru dalam mengajarnya diharapkan dapat melakukannya dengan menggunakan cara yang pleksibel, di sisi yang lain guru dituntut untuk mencapai perubahan yang sama dalam diri anak sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Jadi anak-anak yang berbeda diarahkan menjadi sama. Jika guru tidak dapat mengatasi perbedaan anak ini akan memunculkan keraguan masyarakat terhadap kualitas profesionalnya.
  7. Guru dalam petumbuhan jabatan karirnya mengalami hambatan, karena tugas guru dirasakan berat, pendapatan yang rendah, jumlah siswa yang besar, tugas administrasi, cukup menghadapi tantangan dalam usaha meningkatkan kemampuan profesionalnya, tidak adanya keseimbangan antara kemampuan dan wewenangnya dalam mengatur beban tugas yang dilakukan tanpa bantuan dan insentif dari sekolahnya.
  8. Guru dalam mengelola pembelajaran mengalami kesulitan dalam memenuhi berbagai macam tuntutan yang diutamakan. Ada tuntutan yang mengutamakan keterampilan proses belajar, ada yang mengutamakan menyelesaikan materi dalam kurikulum, dituntut untuk mengutamakan perubahan tingkah laku, ada juga tuntutan yang mengutamakan aspek kognitif. Guru akan dihadpkan pada beberapa plihan yang diutamakan.
Faktor lainnya yang menyebabkan perlunya ada inovasi dalam pendidikan di sekolah, adalah faktor internal yaitu anak didik. Kondisi siswa sangat mempengaruhi terhadap proses inovasi karena tujuan pendidikan adalah untuk terjadinya perubahan tingkah laku anak didik. Anak didik adalah merupakan pusat perhatian dan bahan pertimbangan dalam melaksanakan berbagai kebijakan pendidikan. Demikian juga para ahli pendidik, pegawai administrasi, konselor yang terlibat langsung dalam pendidikan di sekolah akan membantu untuk mengadakan berbagai fasilitas di sekolah. Demikian juga sistem pendidikan yang membatasi kewenangannya dan peluang bagi guru untuk mengambil kebijakan berkreasi dalam melaksanakan tugasnya untuk menghadapi tantangan kemajuan jaman. Kondisi sistem pendidikan seperti ini akan bisa jadi menimbulkan rasa prustasi, mengurangi rasa tanggungjawab dan rasa ikut terlibat dalam melaksanakan tugas.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan inovasi pendidikan di sekolah akan lancar jika kemampuan profesional guru lebih ditingkatkan dan diberikan wewenang untuk mengambil kebijakan dalam melaksanakan tugasnya agar dapat menyesuaikan dengan kondisi dan situasi pada jamannya.