Pengertian Teori Sastra

Pengertian Teori Sastra

Pengertian Teori Sastra

Pengertian Teori Sastra
Pengertian Teori Sastra
Secara umum, yang dimaksud teori adalah suatu sistem ilmu atau pengetahuan sistematik yang menetapkan pola pengaturan hubungan antara gejala-gejala yang diamati. Teori berisi konsep/uraian tentang hukum-hukum untuk suatu objek ilmu pengetahuan dari suatu titik pandang tertentu.
Pertama-tama yang diperlukan adalah bahwa istilah yang tepat untuk menyebut teori sastra, baik bahasa Indonesia atau Inggris, belum ditemukan. Akibatnya definisi mengenai hakikat, fungsi dan teori sastra tidak mudah dirumuskan. Bahkan istilah-istilah yang digunakan untuk menyebutkan konsep-konsep yang paling mendasar pun berbeda-beda. Antara teori dan ilmu sastra belum pada pembatasan yang jelas. Demikianlah pergelutan sastra menjadi ilmu menjadi hambatan-hambatan yang cukup banyak. Juga dalam hal konsep-konsep keilmuannya (Kuntara Wiryamartana, 1992).

Menurut Wellek dan Warren (1993)

sastra adalah suatu kegiatan kreatif, sederetan karya seni. Sedangkan teori sastra adalah studi prinsip, kategori, dan kriteria yang dapat dipacu dan dijadikan titik tolak dalam telaah di bidang sastra. Sedangkan studi terhadap karya satra disebut kritik sastra dan sejarah sastra. Ketiga bidang ilmu tersebut saling mempengaruhi dan berkaitan secara erat. Teori sastra hanya ddapat disusun berdasarkan studi langsung terhadap karya sastra. Kriteria, kategori, dan skema umum mengenai sastra tidak mungkin diciptakan tanpa berpijak pada karya sastra kongkrit.

Yosep (1997:13)

Secara konseptual, yang dimaksud dengan teori fiksi (sastra) merupakan sebuah sistem ilmiah atau pengetahuan sistematik yang merupakan pola pengaturan hubungan antara gejala-gejala yang diamati, Yosep (1997:13), karena itu, teori hakekatnya berisi konsep atau uraian tentang hukum-hukum umum suatu objek ilmu pengetahuan dari satu titik pandang tertentu. Demikian pula, sebuah teori dapat didedukasi secara logis dan dicek kebenarannya (diverifikasi) atau dibantah (difalsifikasi) pada objek atau gejala-gejala yang diamatinya.

Andre Lafevere

berpandangan bahwa karya sastra (termasuk fiksi) merupakan deskripsi pengalaman kemanusiaan yang memiliki demensi individual dan sosial kemasyarakatan sekaligus. Karena itu, pengalaman dan pengetahuan kemanusiaan tidaklah sekedar menghadirkan dan memotret begitu saja, melainkan secara substansial menyarankan bagaimana proses kreasi kreatif pengarang dalam mengekspresikan gagasan-gagasan keindahannya. Gagasan keindahan ini, dapatlah dikatakan berfungsi ganda, untuk mengomunikasikan kenikmatan estetik (esthetic enjoyment), dan bagaimana membuat manusia (pembaca atau penikmat) menemukan kehidupan itu sendiri dalam figurasi estetis dunia yang lain (sastra).

Jan Laxemburg, Mieke Bal, dan Willem G.Weststeij

Sedangkan Jan Laxemburg, Mieke Bal, dan Willem G.Weststeij, menggunakan ilmu sastra yang merujuk pengertian pengertian yang tidak jauh berbeda dengan apa yang dikemukakan oleh Wellek dan Werren. Bagi mereka, ilmu sastra merupakan ilmu yang secara khusus mempelajari teks-teks satra secara sistematis sesuai dengan fungsi-fungsinya di dalam masyarakat. Karena itu tugas ilmu sastra tentunya meneliti dan merumuskan sastra dengan beragam ciri, dan fungsinya dalam masyarakat secara general dan sistematis, yang menentukan kaidah dan konvensi tertentu dalam kesusatraan secara umum.
Dengan demikian, mengacu pada paradigma di atas, dapatlah dibincangkan bahwa teori sastra memanglah kompleks dan beragam. Wellek dan Werren, menyatakan bahwa tugas teori sastra untuk menetapkan prinsip-prinsip, kategori-kategori, dan kriteria-kriteria yang terkait dengan sifat sastra pada umumnya yang berpijak pada hasil sejarah sastra dan kritiknya, maka berbicara mengenai teori sastra hakikatnya berbicara tentang teori kritik sastra dan teori sejarah sastranya. Karena itu, jika dikaitkan dengan pandangan Laxemburg, Mieke, dan Westseijn, istilah ilmu sastra pada keseluruhan kegiatan sistematis yang dikemukakan secara ilmiah dan dijabarkan secara rasional, jelas, dan investigatif. Hal demikian, bergerak pada prinsip dalam kajian sastra sebagai upaya untuk mendukung pemahaman dan apresiasi individual terhadap karya sastra di satu bagian, dan untuk pengembangan ilmu sastra itu sendiri pada bagian yang lain.
Objek ilmu sastra adalah sekelompok teks tertentu. Dapat dikatakan bahwa seharusnya ilmu sastra merupakan cabang ilmu teks pada umumnya. Akan tetapi ilmu ini baru dikembangkan sedangkan ilmu sastra mengandalkan tradisi yang lama sehingga lebih maju dalam penelitiannya. Mempelajari dengan seksama hasil karya satra secara ilmiah disebut ilmu sastra.