Melalui pendekatan kebahasaan (Linguistik)

Melalui pendekatan kebahasaan hadist berasal dari “Hadatsa –yuhdistu- hadtsan- wa hadi-tsan” kata tersebut mempunyai arti yang bermacam-macam, yaitu :

  1. Aljadid minal Asya: artinya sesuatu yang baru. Kata tersebut lawan dari kata al-qodim artinya sesuatu yang telah lama, kuno, klasik. Pengunaan dalam arti demikian kita temukan dalam ungkapan hadits albina dengan arti jadid al bina artinya bangunan baru.
  2. Al-khobar: artinya maa ya kaddasa bihi wayaqol, artinya sesauatu yang dibicarakan atau diberitakan dialihkan dari seseorang ke orang lain.

3.Al-Qorib artinya pada waktu yang dekat, pada waktu yang singkat, pengertian ini digunakan pada ungkapan qorib al-‘ahd bi a- islam yang artinya orang yang baru masuk islam.

Ada sebagian ulama yang menyatakan adanya arti “baru” dalam kata hadits kemudian mereka menggunakan kata tersebut sebagai lawan kata qodim (lama) dengan maksud qodim sebagai kitab Alloh, sedangkan yang “baru” yaitu apa yang didasarkan kepada belia nabi muhammad sholalloohu ‘alaihi wa sallam. Syaikh islam ibnu hajar berkata : “Yang dimaksud dengan hadits menurut pengertian syara’ adalah apa yang disandarkan kepada nabi sholalloohu ‘alaihi wa sallam, dan hal itu seakan-akan sebagai bandingan al qur’an adalah qodim yang dimana terdapat di dalam syarah al bukhori.

  1. Melalui pendekatan Istilah (terminologis)

Selanjutnya kata hadist dari segi istilah (terminologi) di temukan pendapat yang berbeda. Hal ini disebabkan berbedanya cara memandang yang digunakan oleh masing-masing dalam melihat sesuatu masalah :

1.Para ulama hadist misalnya mengartikan bahwa hadist adalah ucapan, perbuatan, dan keadaan Nabi Muhammad Sholallohu ‘Alaihi Wa Sallam.

2.Sementara ulama hadist lain seperti Atthibi berbeda, bahwa hadist bukan hanya perkataan, perbuatan serta ketetapan rosullulah akan tetapi termasuk perkataan, perbuatan dan ketetapan para sahabat dan tabi’in.

3.Ulama ahli usul fiqh mengartikan hadist dalam perkataan perbuatan serta ketetapan rosulullah yang berkaitan dengan hukum.

4.Ulama ahli fiqih mengidentikan hadist dengan sunnah yaitu sebagai salah satu hukum taklifi, bila dikerjakan dapat pahala bila ditinggalkan tidak apa-apa.

Para Muahadditsin (Ulama Ahli Hadits) berbeda-beda pendapatnya dalam menta’rifkan al hadits. Perbedaan pendapat tersebut disebabkan karena terpengaruh oleh terbatas dan luasnya obyek peninjauan mereka masing-masing. Dari perbedaan sifat peninjauan mereka itu melahirkan dua macam ta’rif al hadits, yaitu : pengertian yang terbatas di satu pihak dan pengertian yang luas di pihak lain.

Ta’rif atau pengertian yang terbatas, sebagaimana dikemukakan oleh jumhurul muahadditsin, yaitu :

sumber :

https://icanhasmotivation.com/cara-beli-mobil-bekas-online/