Definisi maslahah mursalah

Definisi maslahah mursalah

Definisi maslahah mursalah

Definisi maslahah mursalah
Definisi maslahah mursalah

Arti Maslahah mursalah

Maslahah mursalah yaitu, yang mutlak, menurut istilsh para ahli ilmu usul fiqih ialah: swuatu kemaslahatan dimana sari’ tidak mensariatkan suatu hokum untuk merealisir kemaslahatah itu, dan tidak ada dalil yang menunjukkan atas pengakuannya atau pembuatanya. Maslahat ini disebut mutlak karena ia tidak terikat oleh dalil yang mengakuinya atau dalil yang membatalkanya bahwasanya pembentukan hukum tidaklah dimaksudkan kecuali mewujudkan kemaslahatan orang banyak, artinya mendatangkan keuntungan bagi mereka, atau menolak madlorot, atu menghilangkan keberatan dari mereka.
Pensyari’atan hokum terkadang mendatangkan kemanfaatan pada suatu masa dan pada masa yang lain ia mendatangkan madlorot. Kadang kala suatu hokum mendatangkan manfaat dalam suatu lingkungan tertentu, namun ia justru mendatangkan madlorot dalam lingkungan yang lain.

Dalil ulama yang menjadikn hujjah maslahah mursalah.

Pendapat jumhur ulama, maslahah mursalah adalah hujjah syar’iyyah yang dijadikan dasar pembentukan hokum, dalil kehujahan maslahah mursalah ada 2 :

1. Kemaslahatan umat manusia baru dan tidak ada habis-habisnya. Jika hokum tidak disyari’atkan untuk mengantisipasi kemaslahatan umat manusia yang terus muncul uum hanya berkisar pada berbagai kemaslahatan yang diakui oleh syari’ saja, maka akan banyak kemaslahatan manusia yang tertinggal diberbagai tempat dan zaman, dan pembentukan hokum tidak mengikuti roda perkembangan manusia dan kemaslahatan mereka, hal ini tidak sesuai dengan apa yang dimaksud dalam pembentukan hokum sebagai upaya mewujudkan kemaslahatan umat manusia.
2. Bahwasanya orang meneliti pembentukan hokum oleh para sahabat, tabi’in dan para imam mujtahid maka ia akan merasa jelas bahwasaya mereka telah mensyari’atkan berbagai hokum untuk merealisir kemaslahatan umum ini, bukan karena adanya dalil yang mengakuinya.

Syarat-Syarat Berhujjah Maslahah Mursalah

Ulama yang berhujjah dengan maslahah mursalah bersikap hati-hati untuk menjadikanya sebagai hujjah, sehingga ia tidak menjadi pintu bagi pembentuan hokum munurut hawa nafsu dan kesenangan.
Ada tiga syarat maslahah mursalah yang menjadi dasar pembentukan hukum:

a. Maslahah mursalah harus merupakan suatu kemaslahatan yang haqiqi dan bukan suatu maslahat yang bbersifat dugaan saja. Membuktikan bahwa pembentuan hokum suatu kasus mendatangkan kemanfaatan dan menolak bahaya. Jika pembentukan suatu hokum menarik suatu manfaat saja tanpa mempertimbangkan madlorotnnya maka ini adalah berdasarkan atas kemaslahatan yang bersifat dugaan (maslahah wahmiyah).
b. Maslahah mursalah adalah kemaslahatan umum dan bukan kemaslahatan pribadi. Dengan tujuan dalam pembentukan hokum pada suatu kasus seharusnya mendatangkan manfaat bagi mayoritas umat manusia, atau menolak bahaya dari mereka dan bukan untuk kemaslahatan individu atau sejumlah perseorangan yang merupakan minoritas dari mereka.
c. Pembentukan hokum berdasarkan kemaslahatan ini tidak bertentangan dengan hokum atau prinsip yang telah berdasarkan nash atau ijma’.

Kekaburan yang paling jelas dari orang yang menolak kehujjahanya.

Sebagian dari ulama berpendapat bahwasanya maslahah mursalah yang tidak ada bukti syar’I yang membuktikan terhadap pengakuan maupun pembatalanya, tidak bisa dijadikan sebagai dasar pembentukan hokum. Adapun dalilnya :

a. Bahwasanya syari’at telah memelihara segalakemaslahatan manusia dengan nash-nashnya dan dengan petunjuknya berupa qiyas.
b. Pembentukan hukum atas dasar kemutlakan kemaslahatan berarti membuka pintu untuk hawa nafsu untuk orang yang menurutinya, baik dari kalangan amir dan para mufti.

Ibnu Al-qoyyin berkata; diantara kaum muslimin ada sekelompok orang yang berlebih-lebihan dalam memelihara maslahah mursalah, sehingga mereka menjadikan syari’at serba terbatas, yang tidak mampu melaksanakan kemaslahatan hamba yang membutuhkan kepada lainnya. Mereka telah menutup dirinya untuk menempuh berbagai jalan yang benar berupa jalan kebenaran dan keadilan dan diantara mereka ada pula orang-orang yang elampaui batas, sehingga mereka memperbolehkan sesuatu yang menafikan syari’at Allah dan mereka memunculkan kejahatan yang panjang dan kerusakan yang luas.

Baca Juga: