Tim PKM-KC Unair Ciptakan Pendiagnosis Tingkat Hipersensivitas Tubuh

Tim PKM-KC Unair Ciptakan Pendiagnosis Tingkat Hipersensivitas Tubuh

Tim PKM-KC Unair Ciptakan Pendiagnosis Tingkat Hipersensivitas Tubuh

Tim PKM-KC Unair Ciptakan Pendiagnosis Tingkat Hipersensivitas Tubuh
Tim PKM-KC Unair Ciptakan Pendiagnosis Tingkat Hipersensivitas Tubuh

Alergi adalah suatu perubahan daya reaksi tubuh terhadap kontak pada suatu zat (alergen) yang memberi reaksi terbentuknya antigen dan antibodi. Respon imun dalam kasus alergi ini dianggap berlebihan dikarenakan allergen itu sendiri bisaanya tidak berbahaya bagi tubuh.

Alergi yang umumnya terjadi adalah hay-fever atau yang bisaa dikenal dengan rhinitis alergi. Rinitis alergi menjadi masalah kesehatan global. Pengobatan saat ini yang dianggap efektif bagi penderita rinitis alergi adalah imunoterapi. Prinsip dari imunoterapi ini memasukkan allergen yang dilarutkan dan diencerkan berkali-kali sehingga konsentrasinya menjadi sangat rendah ke lapisan terluar darikulit, biasanya pada lengan.

Setiap kali melakukan terapi, penderita harus melalui serangkaian tes guna mengetahui tingkat hipersensitivitas

tubuh terhadap alergen yang dimana membutuhkan waktu yang lama serta kurang efisien.

Mengenai hal tersebut, tim PKM-KC Unair yang diketuai Muhammad Amrul Muhafizh melahirkan karya cipta yang berjudul IIAI-Assistant untuk Diagnosis Tingkat Hipersensivitas Tubuh Terhadap Alergen Berbasis Internet of Things. Amrul mengatakan bahwa pengobatan saat ini yang dianggap efektif bagi penderita rinitis alergi adalah imunoterapi.

“Sebelum memulai imunoterapi, penderita harus mengetahui terlebih dulu, alergen apa yang menyebabkan reaksi alergi muncul,” jelasnya, Selasa (2/7/2019).
Baca Juga:

Konferensi Keperawatan UNAIR Fokus Tingkatkan Kesiapan Hadapi Revolusi Industri 4.0
Profesor dari Jepang Teliti Kekebalan Orang Indonesia Terhadap Kanker Lambung
Teman Punya Pengaruh Besar dalam Penanganan Depresi
Wakil Rektor I Unair Berangkatkan 1.350 Mahasiwa
Lewat Gerakan Sosial, Ini yang Diinginkan Bonek Unair

Terdapat dua metode yang dapat digunakan untuk mengetahui penyebab alergi. Menurut Amrul,

metode pertama adalah uji cukit kulit atau skin prick test. Prinsip dari uji ini adalah memasukkan sejumlah kecil alergen yang sering menjadi penyebab alergi, ke lapisan kulit bagian atas (epidermis).

Alergen dimasukkan dengan tusukan jarum pada bagian dalam lengan bawah, kemudian hasilnya akan dibaca dalam waktu sekitar 15 menit. “Pemeriksa akan menilai reaksi yang muncul dari kulit penderita, seperti ada tidaknya kemerahan, dan berapa ukuran bentol yang timbul,” tuturnya.

Metode kedua, lanjutnya, adalah dengan mengambil sampel darah penderitadan memeriksanya secara langsung

untuk mengetahui jenis antibodi spesifik yang terdapat dalam darah penderita tersebut. Prinsip dari imunoterapi ini memasukkan allergen yang dilarutkan dan diencerkan berkali-kali sehingga konsentrasinya menjadi sangat rendah ke lapisan terluar dari kulit, biasanya pada lengan.

“Kami di sini memberikan solusi terhadap permasalahan tersebut yaitu berupa IIAI-Assistant (Internet Integrated Allergen Immunotherapy Assistant). Alat ini dapat membantu untuk mendiagnosis tingkat hipersensitivitas tubuh terhadap alergen spesifik penderita serta terintegrasi ke internet guna memudahkan pengguna dan tenaga medis untuk melihat hasil terapi yangtelah dilakukan dan memuat jadwal terapi selanjutnya yang harus dilakukan secara rutin,” pungkasnya.

 

Baca Juga :