Tamu Asing Mengikuti Indonesian Food Challenge di UPT Bahasa dan Budaya ITS

Tamu Asing Mengikuti Indonesian Food Challenge di UPT Bahasa dan Budaya ITS

Tamu Asing Mengikuti Indonesian Food Challenge di UPT Bahasa dan Budaya ITS

Tamu Asing Mengikuti Indonesian Food Challenge di UPT Bahasa dan Budaya ITS
Tamu Asing Mengikuti Indonesian Food Challenge di UPT Bahasa dan Budaya ITS

Program Internasionalisasi ITS terus menerus mengembangkan program-program

andalan untuk menuju World Class University (WCU). Baru-baru ini UPT Bahasa dan Budaya kedatangan tamu-tamu mancanegara yang tujuannya untuk mempelajari budaya Indonesia. Melalui program Community and Technological Camp (CommTECH) Nusantara 2018, Directorat Hubungan Internasional bersinergi dengan UPT Bahasa dan Budaya untuk menjamu tamu-tamu asing dengan kegiatan-kegiatan budaya yang dilakukan di unit tersebut. Ratna Rintaningrum, Ph.D selaku Kepala UPT Bahasa dan Budaya ketika dikonfirmasi membenarkan berita tersebut. Ratna menjelaskan ada 18 tamu asing dan mereka berstatus sebagai mahasiswa di negaranya yang mengikuti program kegiatan budaya di UPT Bahasa dan Budaya. Mereka berasal dari China, Vietnam, Bangkok, dan Malaysia.

Program Budaya di UPT Bahasa dan Budaya ITS

Ratna menjelaskan kegiatan budaya yang dirangkai dalam program CommTech Nus 2018 berupa ’Live Cooking Demonstration’ dengan tag line ‘Indonesian Food Challenge’. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan budaya Indonesia dari sisi budaya material, yaitu kuliner. Dan ini merupakan budaya yang paling banyak disukai oleh para pebelajar di unit ini. Sebenarnya tajuk dari kegiatan tersebut memiliki arti di belakangnya, Ratna menjelaskan. Dinamakan Food Challenge karena mahasiswa asing tidak hanya diperkenalkan atau ditunjukkan dengan berbagai jenis masakan Indonesia, terus mencicipinya. Lebih dari itu agar kegiatan ini memiliki ‘jiwa’, dan ada gregetnya, para tamu asing tersebut kita tantang untuk memasaknya sekaligus on the spot. Jadi mereka kita beri kesempatan untuk mendemonstrasikannya dan menikmati hasil karyanya.

Ada tiga masakan yang didemonstrasikan, yaitu nasi goreng,

soto, dan rujak manis. Pemilihan ketiga jenis masakan tersebut juga tidak dengan tanpa alasan. Nasi goreng dipilih karena simpel pembuatannya, berupa nasi sebagai makanan pokok Indonesia, soto disajikan karena berupa sup, sedangkan rujak manis, asli Indonesia kita anggap sebagai dessert nya (makanan penutup). Jadi sup sebagai entry, nasi goreng sebagai main course, dan rujak manis sebagai dessert nya. Jadi satu rangkaian makanan, jelas Ratna yang pernah tinggal di Australia selama 7 tahun. Selain itu, mereka perlu juga mengenal buah lokal, Ratna menambahkan.

Para mahasiswa asing tersebut tidak hanya mengetahui makanan khas Indonesia saja, tetapi dalam budaya kuliner mereka juga mengenal recipes makanan Indonesia, yang tidak mereka temukan di negaranya, karena Indonesia memiliki dan menggunakan rempah-rempah.

 

Sumber :

https://campusweb.franklinpierce.edu/ICS/Campus_Life/Campus_Groups/Sustainability_Council/Sustainability_Council%27s_Page.jnz?portlet=Forums&screen=PostView&screenType=change&id=f9abd58e-0dfb-4c95-b7ea-d2e47f10674f