Ribuan Anak Paud Ikuti Gerakan Kencleng

Ribuan Anak Paud Ikuti Gerakan KenclengRibuan Anak Paud Ikuti Gerakan Kencleng

Ribuan Anak Paud Ikuti Gerakan Kencleng

Ribuan Anak Paud Ikuti Gerakan KenclengRibuan Anak Paud Ikuti Gerakan Kencleng
Ribuan Anak Paud Ikuti Gerakan Kencleng

Anak-anak usia dini dari berbagai organisasi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Bandung Barat

tampak ceria saat mengikuti kegiatan gerakan mewarnai kencleng tingkat Kabupaten Bandung Barat di Lapangan Pusdikavkud Parongpong kemarin (29/9). Ada sekitar 1.500 anak yang belajar untuk memahami gerakan kencleng sebagai cara untuk menumbuhkan gemar menabung sejak kecil. Ribuan anak-anak itu terdiri dari sejumlah organisasi Paud yang ada di KBB seperti IGRA, Himpaudi, Ta’am, dan IGTK.
PAUD
HENDRIK KAPARYADI/BANDUNG EKSPRES
TARIK: Sejumlah anak dari PAUD tengah mengikuti lomba tarik tambang dalam acara peringatan Hari Anak di Parongpong kemarin.

Kepala Bidang Paud dan Diknas pada Dinas Pendidikan dan Pemuda Olahraga (Disdikpora)

KBB Jalaludin menyatakan, kegiatan gerakan kencleng tersebut dilakukan untuk memberikan pemahaman sejak dini kepada anak-anak usia dini. Melalui bimbingan guru Paud di lapangan, anak-anak usia dini diharapkan bisa mengimplementasikan gemar menabung dalam kesehariannya. ”Dengan belajar menabung melalui kencleng, ke depan anak-anak ini bisa diimplementasikan dan hasilnya tentu buat mereka juga. Makanya, sejak kecil kita ajarkan mereka rajin menabung,” katanya.

Melalui kegiatan ini, kata dia, anak-anak usia dini di Kabupaten Bandung Barat, bisa gemar menabung hingga masa tua. Hal itu sangat positif bagi keberlangsungan masa depan anak-anak tersebut. ”Kalau dimulai sejak kecil, maka ada waktu mereka memasuki dewasa hingga tua nanti, sikap gemar menabung akan terus dilakukan,” bebernya.

Ia menambahkan, di Kabupaten Bandung Barat sendiri, ada sekitar 49 ribu anak usia nol

tahun hingga usia dini. Namun baru sebanyak 38.987 anak yang sudah mengenyam pendidikan usia dini di sekolah Paud di wilayahnya masing-masing. ”Yang belum masuk sekitar 20 persen anak dari usia nol sampai usia dini,” ujarnya.

Anak yang belum mengenyam Paud, lanjut dia, disebabkan karena banyak orangtua yang masih percaya mendidik anaknya sendiri dibanding harus di sekolahkan ke Paud. Selain itu, ada juga anak yang mengikuti program pengajian di lingkungan sekitar rumahnya masing-masing. ”Ke depan diharapkan di setiap RW ada satu sekolah Paud,” harapnya.

 

Sumber :

https://dcc.ac.id/blog/sejarah-danau-toba/