prasasti kerajaan jenggala

 

Dalam kitab calon arang di ceritakan bahwa suatu ketika kerajaan airlangga ditimpa musibah wabah penyakit yang menyeramkan. Wabah itu ditimbulkan dari seorang janda di Girah yang merasa sakit hati karena anaknya yang cantik tidak ada orang yang meminangnya . untuk menyelesaikan wabah itu raja airlangga meminta bantuan Pu bharada untuk menyuruh muridnya melamar anak janda tersebut. Dengan demikian wabah ini dapat dihilangkan.
Dalam menggantikan tahtanya sebagai raja, Pada tahun 1042 raja Airlangga harus memberi kerajaan kepada dua orang anak laki-lakinya. Cara pertamanya untuk mengatasinya, Airlangga mengutus Pu Bharada pergi ke Bali dan meminta kekuasaan kepada kerajaan Ibunya. Namun, hal ini tidak disetujui karena pengganti dari raja selanjutnya akan diberikan oleh ketrurunannya. Dengan demikian, secara terpaksa maka Raja Airlangga membagi tanah Jawa menjadi dua yakni pangjalu di sebelah timur dan janggala di sebelah barat. Pembagian tanah ini dilaksanakan oleh Pu Bharada.

a. Kerajaan Panjalu atau Kadiri

Kerajaan Pangjalu berpusat di kota Daha. Di dalam prasasti Pamwatan(buatan Airlangga), dijelaskan, Daha merupakan singkatan dari Dahanapura yang berarti kota api. Kekuasaan ini ada di bawah Sri Samarawijaya. Pada mulanya, nama Panjalu memang sering dipakai daripada Kadiri. Hal ini dapat dibuktikan dalam prasasti-prasasti yang diterbitkan oleh raja-raja Kadiri. Bahkan, nama Panjalu juga dikenal sebagai Pu-chia-lung dalam kronik Cina berjudul ling wai tai ta(1178).
Sejarah Kerajaan Panjalu mulai diketahui dengan adanya prasasti Sirah Keting (1104M) yaitu adanya nama Sri Jayawarsa. Raja-raja sebelum Sri Jayawarsa hanya Sri Samarawijaya yang sudah diketahui. Sedangkan urutan raja-raja sesudah Sri Jayawarsa sudah dapat diketahui dengan jelas berdasarkan prasasti-prasasti yang ditemukan.
Selanjutnya, setelah pemerintahan Sri Jayawarsa berakhir, digantikan oleh Bameswara yang bergelar Sri Maharaja Rakai Sirikan Kameswhara Sakalabhuwanatushitakarana Sarwwaniyyawwiryya paraka digjayatuggadewa.Kemudian pemerintahan berganti kepada Jaybaya yang bergelar Sri Maharaja Madhusudanawataranindita. Selain itu, Jayabaya terkenal sebagai peramal dan sastrawan aliran kejawen. Ramalannya dibukukan dalam Kitab Jangka Jayabaya.
Masa inilah yang dianggap sebagai masa kejayaan. Hal ini dikarenakan Jayabaya telah melakukan perang saudara dan berhasil menaklukan kerajaan Janggala. Cerita ini kemudian diabadikan dalam kitab Bharatayudha karya Mpu Sedah dan Mpu Panaluh.dan ditulis dalam prasasti Ngantang (1135M), yaitu Panjalu Jayati dan Panjalu Menang. Bahkan Wilayah kerajaan ini meliputi seluruh Jawa dan beberapa pulau di Nusantara, bahkan sampai mengalahkan pengaruh Kerajaan Sriwijaya di Sumatra.
Jayabaya kemudian digantikan oleh Sarweswaradan Aryyeswara. Namun pemerintahan ini tidak banyak diketahui. Pemerintahan selanjutnya yaitu Gandra. Dalam pemerintahannya, ia menggunakan struktur pemerintahan yang diwariskan medang kamulan. Para pejabat diberi nama hewan seperti gajah atau kebo sebagai tanda pengenal kepangkatan tertentu. Dengan demikian, ciri dari pemerintahan Gandra adalah pesatnya karya sastra jawa dengan munculnya cerita panji dan kakawin.
Raja selanjutnya adalah kertajaya. Masa ini kerajaan kadiri mengalami masalah dan ketidakstabilan. Penyebabnya adalah kertajaya mulai mengurangi peran istimewa kaum brahmana. Menurut kisah pararaton dan nagarakretagama, pada tahun 1222 kertajaya berselisih dengan kaum brahmana dan kemudian meminta tolong kepada ken arok akuwu tumapel.
b. Kerajaan Janggala
Nama Janggala diperkirakan berasal kata “Hujung Galuh” atau disebut “Jung-ya-lu” berdasarkan catatan China, Hujung Galuh terletak di daerah muara sungai Brantas yang diperkirakan kini menjadi bagian kota Surabaya. Kota ini merupakan pelabuhan penting sejak zaman kerajaan Kahuripan, Janggala, Kediri, Singhasari, hingga Majapahit. Pada masa kerajaan Singhasari dan Majapahit pelabuhan ini kembali disebut sebagai Hujung Galuh.
Pada tahun 1042, Airlangga turun takhta dan memilih Putri mahkotanya yang bernama Sanggramawijaya Tunggadewi tetapi ia lebih dulu memilih kehidupan sebagai pertapa, sehingga timbul perebutan kekuasaan antara kedua putra Airlangga yang lain, yaitu Sri Samarawijaya dan Mapanji Garasakan.
Akhir November 1042, Airlangga terpaksa membagi dua wilayah kerajaannya. Sri Samarawijaya mendapatkan Kerajaan Kadiri di sebelah barat yang berpusat di kota baru, yaitu Daha. Sedangkan Mapanji Garasakan mendapatkan Kerajaan Janggala di sebelah timur yang berpusat di kota lama, yaitu Kahuripan.
Pembagian kerajaan sepeninggal Airlangga terkesan sia-sia, karena antara kedua putranya tetap saja terlibat perang saudara untuk saling menguasai. Pada awal berdirinya, Kerajaan Janggala lebih banyak meninggalkan bukti sejarah daripada Kerajaan Kadiri. Beberapa orang raja yang diketahui memerintah Janggala antara lain:
1. Mapanji Garasakan, berdasarkan prasasti Turun Hyang II (1044), prasasti Kambang Putih, dan prasasti Malenga (1052).
2. Alanjung Ahyes, berdasarkan prasasti Banjaran (1052).
3. Samarotsaha, berdasarkan prasasti Sumengka (1059)
Meskipun raja Janggala yang sudah diketahui namanya hanya tiga orang saja, namun kerajaan ini mampu bertahan dalam persaingan sampai kurang lebih 90 tahun lamanya.


Sumber: https://belantaraindonesia.org/