Pengertian Sains

Sains adalah salah satu corak pengetahuan ialah pengetahuan yang ilmiah, yang lazim disebut dengan ilmu pengetahuan atau singkatnya ilmu, yang ekwivalen artinya dengan science dalam Bahasa Inggris dan Perancis, Wissenchaft (Jerman) dan Wetenschap (Belanda). Sebagaimana juga science berasal dari kata scio, scire (Bahasa Latin) yang berarti tahu begitupun ilmu berasal dari kata alima (Bahasa Arab) yang juga berarti tahu jadi, baik ilmu maupun science secara etimologis berarti pengetahuan. Namun secara terminologis ilmu dan science itu semacam pengetahuan yang mempunyai ciri- ciri, tanda- tanda, dan syarat- syarat yang khas.[1]

Ilmu adalah pengetahuan yang pasti, sistematis, metodik, ilmiah dan mencakup kebenaran umum mengenai obyek studi. Sedangkan pengetahuan adalah sesuatu yang menjelaskan tentang adanya sesuatu hal yang diperoleh secara biasa atau sehari- hari melalui pengalaman (empiris), kesadaran (intuisi), informasi dan sebagainya. Jadi pengetahuan memiliki cangkupan yang luas daripada ilmu.[2]

Pada dasarnya cara kerja sains adalah kerja mencari hubungan sebab- akibat atau mencari pengaruh sesuatu terhadap pengaruh yang lain. Asumsi dasar sains ialah tidak ada kejadian tanpa sebab. Asumsi ini oleh Fred N. Kerlinger dirumuskan dalam ungkapan post hoc, ergo propter hoc (ini, tentu disebabkan oleh ini). Asumsi ini benar bila sebab akibat itu memiliki hubungan rasional. Ilmu atau sains berisi teori. Teori itu pada dasarnya menerangkanhubungan sebab akibat. Sains tidak memberikan nilai baik atau buruk, hal- hal atau haram, sopan atau tidak sopan, indah atau tidak indah, sains hanya memberikan nilai benar atau salah. Kenyataan inilah yang menyebabkan ada orang menyangka bahwa sains itu netral.[3]

Definisi ilmu Arthur Thomson. Athur Thomson mendefinisikan ilmu itu “pelukisan fakta-fakta pengalaman secara lengkap dan konsisten dalam istilah-istilah sesederhana mungkin”. Ilmu menggali pengetahuan dari fakta-fakta danmerumuskan pengetahuan itu dalam bentuk teori atau hukum. Karena pengetahun itu sesuai dengan faktanya, maka pengetahuan yang digali dan yang dinyatakannya itu adalah benar. Ilmu = kerja sama otak-tangan. Jelaslah betapa inherennya (berhubungan ketat) ilmu dengan fakta, yaitu fakta yang dialami. Fakta yang belum ditafsirkan jadi bersifat murni, disebut data. Data inilah yang dihimpun oleh riset dan atau data eksperimen. Sedangkan pelukisan, penjelasannya, dan kesimpulannya jadi tugas pikiran.Riset dan eksperimen adalah kerja tangan. Berpikir adalah kerja otak, karena itu ilmu merupakan hasil kerja sama otak dan tangan. Pengetahuan, hasil dari kerja panca indra, sedangkan filsafat hasil dari kerja berfikir saja. Jadi, ilmu dapat disebut ilmu pengetahuan.[4]

  1. Pengertian Agama

Menurut harafiah agama berasal dari Bahasa Sansekerta dari kata a dan gama. A berarti ‘tidak’ dan gama berarti ‘kacau’. Jadi, kata agama diartikan tidak kacau, tidak semerawut, hidup menjadi lurus dan benar.Pengertian agama menunjukan kepada jalan atau cara yang ditempuh untuk mencari keridhoan tuhan. Dalam agama itu ada sesuatu yang dianggap berkuasa yaitu tuhan, zat yang memiliki segala yang ada, yang berkuasa, yang mengatur seluru alam beserta isinya. Dalam penjelasan selanjutnya, agama dibedakan dengan agama wahyu dan agama bukan wahyu. Agama wahyu biasanya berpijak pada kesan Tuhan, ada nabi yang bertugas menyampaikan ajaran kepada manusia dan ada kitab suci yang dijadikan rujukan dan tuntutan tentang baik dan buruk. Sedangkan pada agama yang bukan wahyu tidak membicarakan tentang keesaan tuhan, dan tidak ada nabi.[5]

Agama merupakan kumpulan cara-cara mengabdi kepada Tuhan dan semua cara itu terkumpul dalam kitab suci yang harus dibaca. Di sisi lain kata religi berasal dari religare yang berarti mengikat. Ajaran-ajaran agama memang mempunyai sifat mengikat bagi manusia.Seorang yang beragama tetap terikat dengan hukum-hukum dan aturan-aturan yang ditetapkan oleh agama. Sedangkan kata “agama” berasal dari bahasa Sanskrit “a” yang berarti tidak dan “gam” yang berarti pergi, tetap di tempat, diwarisi turun temurun dalam kehidupan manusia. Ternyata agama memang mempunyai sifat seperti itu. Agama, selain bagi orang-orang tertentu, selalu menjadi pola hidup manusia. Dick Hartoko menyebut agama itu dengan religi, yaitu ilmu yang meneliti hubungan antara manusia dengan “Yang Kudus” dan hubungan itu direalisasikan dalambentuk  ibadah-ibadah.[6]

baca jua :