Pembagian Hadist Berdasarkan Dasar Alasan Berhujjah

Pembagian Hadist Berdasarkan Dasar Alasan Berhujjah

1.Hadits Shohih yaitu hadits yang dinukil (diriwayatkan) oleh rowi yang adil, sempurna ingatan, sanadnya bersambung-sambung, tidak ber’ilat dan tidak janggal. Maksud dari adil yaitu selalu berbuat taat, menjahui dosa – dosa kecil, tidak melakukan perkara yang menggugurkan iman.

2.Hadits Hasan, yaitu hadits yang dibnukikan oleh orang adil (tapi) tidak begitu kokoh ingatannya, bersambung-sambung sanadnya yang tidak terdapat ilat serta kejanggalan dalam matannya.

3.Hadits Dha’if yaitu hadits yang tidak memenuhi syarat-syarat shohih ataupun syarat-syarat hasan.

4.Hadits Qutsiy sinonim dengan hadits Ilahiy yaitu setiap hadits yang mengandung sandaran Rosululloh saw. kepada Alloh swt. Perbedaan antara hadits Qudsiy dan nabawi yaitu bahwa hadits Nabawi yang terakhir dinisbatkan kepada Rosul saw. dan diriwayatkan dari beliu, sedangkan hadits Qudsiy dinisbatkan kepada Alloh swt.

  1. Sejarah Pertumbuhan Hadist dan Perkembangannya

Hadist pada awal sejarahnya pernah dilarang untuk ditulis oleh para sahabat nabi. Hal ini dilakukan Nabi semata untuk memelihara Al-Qur’an agar tidak tercampur baur dengan Hadist. Karena pada masa itupun Al-Qur’an masih belum terhimpun pada mushaf. Perjalanan Hadist melewati pase-pase yang spesifik yaitu :1.Fase Penulisan dan Pentadwinan

Pada permulaannya hadist hanya boleh diriwayatkan secara lisan bahkan Rosululloh sendiri mengingatkan sahabatnya untuk tidak menuliskan hadist bahkan kalau sudah terlanjur harus dihapus.

Dari penjelasan diatas dapat memberikan penegasan akan berbagai hal sebagaimana berikut : 1. Penulisan al-Qur’an tidak boleh tercampur aduk dengan al-Hadist, 2. Periwayatan Hadist pada masa itu hanya boleh dengan lisan dan 3. Orang tidak boleh membuat hadist palsu.

2.Hadist Pada Masa Kholifah Abu Bakar dan Umar

Upaya mengembangkan penulisan Hadist pada masa ini tidak banyak, karena konsentrasi Kholifah pada masa itu terarah pada masayrakat muslim yang mulai memudar dengan wafatnya Rosululloh, bahkan ketika Kholifah Umar mengusulkan penulisan Al-Qur’an kedalam Mushaf, Kholifah Abu Bakar tidak langsung menerima usulan tersebut dengan alasan bahwa  itu adalah sesuatu yang tidak pernah dilakukan Rosul.

Kondisi semacam itu membuat posisi Hadist

baca juga :