NIFAS DAN MASA SUCI

NIFAS DAN MASA SUCI

NIFAS

Nifas atau nufas, dengan (dhumah nun) ialah darah yang keluar dari qubul perempuan sesudah mati. Seandainya dia melahirkan dengan cara operasi, yaitu dengan cara membedah perut perempuan hamil dan mengeluarkan bayi kandungannya dari belahan kandungan tersebut, maka perempuan tersebut tidak mempunyai darah nifas.

Jika perempuan itu keguguran, dan janin yang gugur itu sudah mempunyai jari, atau kuku, atau rambut, dan sebagainya, maka janin tersebut sama dengan bayi yang menyebabkan keluarnya darah nifas. Jika janin tersebut belum mempunyai apa-apa, yaitu masih merupakan segumpal darah atau segumpal daging, maka darah yang keluar sesudah itu dapat dianggap sebagai darah haid bila keguguran itu bertepatan dengan masa haid. Jika tidak, maka darah itu adalah penyakit.

Apabila seorang perempuan melahirkan anak kembar, maka masa nifasnya dihitung sejak kelahiran anak pertama, bukan dari kelahiran kembar yang kedua. Seandainya jarak kelahiran antara anak yang pertama dengan yang kedua lama, maka nifasnya tetap dihitung sejak melahirkan yang pertama. Jikalau kelahiran yang kedua tlambat sampai empat puluh hari dari kelahiran pertama, maka darah yang turun sesudah melahirkan adalah penyakit, bukan darah nifas.

Tidak ada batasan bagi sekurang-kurang nifas. Masa nifas itu bisa terjadi hanya sekejap. Apabila seorang perempuan melahirkan, dan sesudah itudaahnya langsung berhenti pula, atau mungkin dia melahirkan tanpa darah, maka habispulalah msa nifasnya, dan wajiblah melaksanakan tugas-tugas seperti yang diwajibkan kepada setiap perempuan suci. Dalam bab terdahulu telah diceritakan kasus Fathimah Az-Zahra binti Rasulullah. Dia mlahirkan ketika hilang cahaya merah diwaktu senja. Sebentar ekmudian dia telah suci kembali dari nifas, lalu dia mandi dan shalat ‘Isya tepat pada awal waktu. Karena itulah dikatakan, sekurang-kurangnya masa nifas adalah sekejap. Dan selama-lama masa nifas ialah empat puluh hari.

MASA SUCI BERSELANG-SELING

Masa suci yang berselang-seling oleh nifas, yaitu sehari keluar darah nifas dan sehari suci, dalam masalah ini terdapat perbedaan pendapat.

HANAFI : Mereka mengatakan, masa suci yang diselang-seling oleh keluarnya darah nifas, dianggap sebagai masa nifas.
HANBALI : Masa suci yang diselang-seling oleh keluarnya darah nifas dianggap sebagai masa suci.
SYAFI’I : Jika masa suci berlangsung lima belas hari atau lebih sesudah dia melahirkan, maka perempaun tersebut dihukumkan telah suci, sedangkan masa sebelum cukup lima belas hari dikatakan sebagai masa nifas.
MALIKI : Jika hari-hari suci sudah telah mencapai setengah bulan (lima belas hari), maka perempuan bersangkutan telah suci. Sedangkan darah yang turun sesudah itu adalah darah haid, Jika masih kuarang dari lima belas hari, darah yang keluar adalah darah nifas.

Baca Juga: