Mulat Sarira Nagri Parahyangan, Menghidupkan Kembali Peran Simpul Budaya

Mulat Sarira Nagri Parahyangan, Menghidupkan Kembali Peran Simpul Budaya

Mulat Sarira Nagri Parahyangan, Menghidupkan Kembali Peran Simpul Budaya

Mulat Sarira Nagri Parahyangan, Menghidupkan Kembali Peran Simpul Budaya
Mulat Sarira Nagri Parahyangan, Menghidupkan Kembali Peran Simpul Budaya

BANDUNG – NuArt Sculpture Park Bandung, selama ini

telah dikenal publik sebagai taman kebudayaan yang memberi suguhan berupa taman patung, museum, dan aktivitas di bengkel kerja Nyoman Nuarta. Aktivitas itu secara rutin telah berlangsung sejak awal tahun 2000-an, di mana NuArt didirikan.

Belakangan Nyoman Nuarta sebagai penggagas NuArt, semakin menyadari
pentingnya memberi akses lebih leluasa kepada publik terhadap simpul-simpul budaya, yang dibangun secara mandiri.

Gagasan dan kesadaran itulah yang kemudian menuntunnya menggelar acara Mulat Sarira Nagri Parahyangan, yang berlangsung 17 dan 18 Maret 2016
di NuArt Sculpture Park Bandung. Mulat Sarira sendiri berasal dari bahasa Jawa Kuna, yang berarti kembali ke dalam diri. Idiom itu juga
seringkali diartikan sebagai tindakan mawas diri, introspeksi, dan melihat ke dalam terlebih dahulu sebelum mencari kebenaran atau
kesalahan kepada orang lain.

Sedangkan Negri Parahyangan sendiri berarti tanah Sunda,

di mana Nyoman Nuarta dan NuArt berlokasi selama ini. Secara utuh tema
perayaan ini bermakna, kembali kepada kejatidirian melalui tanah Sunda. Oleh sebab itulah Nyoman Nuarta menggagas beberapa acara yang dirangkai sebagai sebuah happening art untuk mempresentasikan gagasan Mulat Sarira tersebut.

Nuart telah menggelar sebuah happening art yang mengusung tema MulatSarira. Nyoman Nuarta dan tim membuat sebuah skenario untuk menyatukan
seluruh materi dari berbagai cabang seni. Rangkaian itu sekaligus dipresentasikan sebagai sebentuk teater bergerak yang kemudian
mengalirkan seluruh acara.

Pada rangkaian ini akan terlibat pula Menteri Pendidikan

dan Kebudayaan Anies Baswedan, Nyoman Nuarta, penyanyi Dira Sugandi,
komponis dan penyanyi Ayu Laksmi, pemetik kecapi Sunda Dewi Kanti, koreografer Eko “Pece” Supriyanto, serta aktor kawakan Wawan Shofwan.
Kurator Jim Supangkat serta beberapa pejabat publik juga akan terlibat langsung dalam rangkaian happening art ini. Mereka akan “diperankan”
sebagai aktor-aktor sesuai dengan kapasitas masing-masing untuk menggerakkan satu pertunjukan bersama. Dan masing-masing “pemeran”
akan menafsirkan tema Mulat Sarira, hingga menciptakan satu mozaik ekspresi dan pemikiran tentang bagaimana seharusnya bersikap dan
berlaku sebagai manusia di masa kini.

Menurut Nyoman Nuarta, untuk mencapai sasaran “memanusiakan manusia lewat peran budaya”, seluruh elemen bangsa harus turut bergerak. “Oleh
sebab itulah nanti akan terlibat banyak seniman dari berbagai disiplin. Mereka ada penari, penyanyi, pemusik, dan pelukis. Juga jangan lupa akan banyak pemimpin bangsa, karena dari mereka kita harapkan keteladanan kebangsaan itu,” kata Nyoman Nuarta.

 

Baca Juga :