Miris, Murid SD di Daerah Ini Terpaksa Belajar di Balai Desa

Miris, Murid SD di Daerah Ini Terpaksa Belajar di Balai Desa

Miris, Murid SD di Daerah Ini Terpaksa Belajar di Balai Desa

Miris, Murid SD di Daerah Ini Terpaksa Belajar di Balai Desa
Miris, Murid SD di Daerah Ini Terpaksa Belajar di Balai Desa

Kondisi pendidikan di negeri ini sangat memprihatikan. Terutama Tanjung Selor, ibu kota di daerah Kalimantan Utara. Sebab, hingga hari ini masih ada sekolah yang belum memiliki gedung sendiri.

Terutama di SDN 030 di Desa Sepunggur Kecamatan Tanjung Selor.

Untuk aktivitas belajar mengajar, 60 murid di sekolah ini menumpang di balai desa.

Salah satu anggota Komunitas Sosial Sedekah Seribu Bulungan (KSSSB), Desi yang sempat berkunjung ke desa tersebut mengatakan, karena tidak adanya bangunan sekolah, pembelajaran dari dari kelas satu hingga kelas enam digabungkan menjadi satu tempat di balai desa itu.

“Kelas satu sampai kelas enam di balai desa. Sementara ruangan di belakang balai desa digunakan untuk perpustakaan sekaligus ruangan guru,” ujar Desi sebagaimana dilansir dari Radar Kaltara (Jawa Pos Group), Jumat (21/7).

Diakuinya, saat ini KSSSB memang belum memberikan bantuan apapun,

karena baru melakukan survei apa saja yang dibutuhkan agar pemberian bantuan tidak salah sasaran.

Sementara itu, untuk membantu kegiatan belajar mengajar, tidak bisa maksimal. Jikapun dilaksanakan tidak bisa rutin setiap minggu seperti di SP 9 Desa Tanjung Buka.

“Hal itu dikarenakan kondisi geografis yang sangat jauh dari fasilitas umum yang berada di trans lokal sedangkan siswa di sana kebanyakan trans Jawa, jadi jarak mereka jauh. Sekitar lima kilometer dari balai desa,” jelasnya.

Namun tidak perlu dikhawatirkan, sebab sudah ada tiga orang guru dan satu relawan

yang bersedia mengajar tanpa dibayar di lokasi tersebut.

Beberapa fasilitas yang dibutuhkan di antaranya; whiteboard, buku mata pelajaran, seragam sekolah, sepatu, bangku, meja dan terutama bangunan sekolah itu.

“Untuk sementara ini mungkin kami bisa bantu dalam bentuk buku-buku layak baca saja,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bulungaan, H.Jamaludin Saleh mengatakan, daerah transmigrasi ini merupakan skala prioritas bagi pemerintah daerah.

Terkait anggaran, Disdikbud sudah mengajukan usulan pada tahun anggaran 2018 ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk pembangunan gedung sekolah tersebut.

“Semoga dapat dikucurkan oleh kementerian,” ujarnya.

 

Baca Juga :