Menristekdikti: Publikasi Internasional Indonesia Salip Thailand

Menristekdikti Publikasi Internasional Indonesia Salip Thailand

Menristekdikti: Publikasi Internasional Indonesia Salip Thailand

Menristekdikti Publikasi Internasional Indonesia Salip Thailand
Menristekdikti Publikasi Internasional Indonesia Salip Thailand

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir

mengungkapkan setelah 20 tahun, akhirnya Indonesia dapat mengalahkan Thailand dalam hal produksi publikasi internasional.

Hal itu dikatakan mantan Rektor Universitas Diponegoro, Semarang tersebut, saat meluncurkan ‎Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-23 di Pekanbaru, Provinsi Riau, Sabtu (10/2) malam.

“Kita selalu mengatakan biaya riset adalah yang sangat rendah. Kalau kita lihat dalam hal ini, ukuran output hasil kaitan riset pada publikasi, dulu di tahun 2014 publikasi internasional kita di angka 4.200, Thailand sudah di angka 9.500. Selama 20 tahun Indonesia belum mampu mengalahkan Thailand, belum lagi Singapura dan Malaysia,” katanya.

Nasir mengungkapkan, meskipun biaya riset tergolong rendah, namun dengan adany

a kebijakan-kebijakan yang telah dirubah oleh pemerintah, maka pada tahun 2017 Indonesia telah mampu memproduksi publikasi internasionalnya sebanyak 17.659 publikasi.

Angka tersebut, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan publikasi negara Thailand yang tercatat hanya sebanyak 15.200 publikasi. “Baru kali ini Indonesia bisa mengalahkan Thailand dalam publikasi,” ungkapnya.

Menurutnya, perubahan kebijakan-kebijakan itulah yang harus dilakukan, mengingat

untuk membuat suatu inovasi haruslah berbasis pada suatu riset. Apabila riset membaik dan tingkat publikasi semakin menumbuh, maka inovasi pun akan ikut membaik.‎

‎Lebih lanjut dia menjelaskan, untuk biaya riset di Indonesia sendiri, masih berada di angka Rp 30 triliun yang berasal dari dana APBN dan APBD serta swasta.

“‎Sementara dibandingkan di diri kita pada pendapatan bruto ada Rp 13 triliun. Berarti kita hanya di angka 0,25. Angka 0,21 disokong dari dana APBN dan APBD sementara 0,04 persen disokong oleh pihak swasta,” jelasnya.

‎Bila dibandingkan dengan biaya riset di negara Singapura, sebanyak 80 persen didukung oleh pihak swasta. Sementara 20 persen didukung oleh pemerintah.

Dari angka tersebut, Indonesia masih jauh tertinggal. Namun Menteri meyakini pada tahun 2018 mendatang, untuk publikasi internasional Indonesia bisa mengalahkan Singapura.

“Kita masih jauh sekali, tapi saya yakin 2018 ini, publikasi akan mengalahkan Singapura. InsyaAllah,” harapnya.

 

Sumber :

https://balad.org/resensi-adalah/