Mengenal Tentang Ngaben Massal

Mengenal Tentang Ngaben Massal

Mengenal Tentang Ngaben Massal

Mengenal Tentang Ngaben Massal
Mengenal Tentang Ngaben Massal
  1. Latar Belakang Ngaben Massal di Desa Adat Legian

Sebagai umat beragama Hindu yang menjunjung tinggi nilai-nilai adat dan budaya, sudah merupakan kewajiban bagi sebuah kelompok masyarakat atau individu untuk melaksanakan apa yang telah ditentukan atau digariskan oleh norma-norma dan nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Kewajiban yang harus dilaksanakan oleh umat Hindu adalah melakukan Yadnya. Salah satu dari Yadnya/ kewajiban tersebut adalah melaksanakan upacara ngaben. Upacara ngaben dilaksanakan terhadap keluarga yang telah meninggal oleh keluarga yang ditinggalkan sebagai kewajiban membayar hutang kepada leluhur. Di dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban selaku umat beragama, sangat terkait dengan adat dan tradisi suatu desa pakraman, dimana di dalam hal ini adalah adat dan tradisi warga masyarakat di Desa Legian. Untuk mengetahui bagaimana dan apa saja teradisi tersebut, alangkah baiknya diuraikan terlebih dahulu tentang kondisi dan situasi desa legian.

Legian adalah merupakan sebuah Desa Adat yaitu yang disebut Desa Adat Legian yang merupakan satu kesatuan wilayah/palemahan (wewidangan) yang terdiri dari tiga Banjar Suka-Duka dan Banjar Dinas yaitu Br. Legian Kaja, Br. Pekandelan Legian (Legian Tengah), dan Br. Legian Kelod. Desa Adat Legian, sesuai dengan keputusan Pemkab Badung mengadakan pemekaran wilayah, menjadi satu wilayah kelurahan yaitu Kelurahan Legian. Ditinjau dari segi topografi, desa legian adalah termasuk wilayah dataran rendah yang terletak di pesisir pantai. Penduduknya bersifat heterogen, yang terdiri dari banyak penduduk pendatang baik dari luar Bali maupun dari Bali, tetapi luar kabupaten. Jumlah penduduk asli hanya berkisar sekitar 600 orang.

Sebagai masyarakat Bali yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama Hindu, masyarakat desa adat legian selalu taat dalam melaksanakan ajaran Agama, serta sangat menghormati para leluhurnya, yaitu dengan jalan membayar hutang dalam bentuk persembahan yadnya seperti yang telah dikemukakan pada awal tulisan ini. Kembali disebutkan bahwa salah satu dari pelaksanaan yadnya tersebut adalah melaksanakan upacara ngaben bagi orang atau keluarga yang sudah meninggal. Upacara ngaben ini dilaksanakan dengan maksud untuk mempercepat proses kembalinya panca mahabhuta yang membentuk badan manusia, agar kembali ke asalnya. Dan bertujuan untuk melancarkan jalan bagi atman untuk dapat mencapai alam sorga.

Dalam melaksanakan upacara ngaben, tentu dana yang diperlukan cukup besar, bagi ukuran umat atau masyarakat yang ada di Desa Legian. Jika keluarga yang cukup mampu, akan melaksanakan ngaben segera setelah ada anggota keluarga yang meninggal, dan sebaliknya jika yang meninggal itu adalah dari keluarga yang tidak mampu/miskin, maka jenasahnya cukup dikubur dengan upacara secukupnya, dan akan melaksanakan ngaben setelah ia mampu. Biasanya untuk dapat melaksanakannya akan menunggu cukup lama, mungkin 10 – 25 tahun atau lebih.

Untuk mengantisipasi hal tersebut,maka desa adat melakukan upaya-upaya untuk memberikan bantuan dalam bentuk merangkul kewajiban masyarakat dalam melaksanakan upacara ngaben, sehingga bagi masyarakat yang kurang mampu dapat memberikan kewajiban membayar hutang kepada leluhurnya. Karena seperti diketahui, untuk melaksanakan upacara ngaben (di Legian) memerlukan biaya yang cukup besar. Dalam hal trsebut masyarakat adat, melalui keputusan parum samuan tiga, menghasilkan suatu keputusan untuk melaksanakan upacara ngaben secara masal.

  1. Maksud dan Tujuan

Maksud dari dilaksanakannya upacara ngaben adalah:

Secara garis besar, bahwa ngaben itu dimaksudkan untuk memproses unsur Panca Mahabhuta yang membentuk tubuh manusia untuk dikembalikan ke asalnya. Atau dengan kata lain, stula sarira dari tubuhmanusia yang telah meninggal dikembalikan lagi ke Panca Maha Buta atau alam semesta melalui proses Pralina atau pembakaran.Oleh karenanya sesungguhnya ngaben tidak bisa ditunda-tunda. Mestinya begitu meninggal harus segera diaben.

Tujuan dari dilaksanakannya upacara ngaben :

Menyucikan arwah leluhur atau orang tua, sehingga arwahnya bisa mencapai Bhuah Loka yaitu alam Pitara. Di dalam Ngaben terdiri dari pemisahan Purusa dan Prakerti Jiwatman dengan stula sarira atau badan wadag. Jiwatman yang berasal dari Hyang Widhi dikembalikan Kembali ke Hyang Widi. Disamping itu untuk membayar hutang kepada orangtua/leluhur, yaitu dalam Pitra Rnam adalah orang tua yang “melahirkan” kita sehingga kita menjelma ke dunia, maka itulah orangtua disebutkan dengan nama Guru Rupaka. Orang tua adalah merupakan Dewa skala, yang mengadakan si anak, karena dengan adanya pertemuan Sukla – swanita itulah atma akan menjiwai manusia. Inilah landasan kita berbakti setulus tulusnya terhadap orang tua/leluhur. Orang tua mempunyai hubungan timbal balik, yang diwujudkan dalam upacara Ngaben. Dalam Upacara Ngaben terkandung dualisme, yaitu orang tua yang mengadakan anaknya melalui proses ciptaan dan setelah orang tua meningal, anaknya yang mengembalikan orang tuanya ke asal yang disebut dengan “Mulihing Sangkan Paran”.

  1. Landasan Upacara

Di dalam kitab Menawa Dharmasastra VI. 35, ada disebutkan bahwa aktivitas atau kegiatan beragama baru dapat dilakukan dalam rangka melepaskan diri dari ikatan duniawi dengan jalan mencapai kelepasan setelah kita dapat menebus tiga hutang moral. Hutang moral dalam agama Hindu disebut dengan TRI RNA yang terdiri dari:

  • Dewa Rna yang berarti berhutang moral kepada Tuhan,
  • Pitra Rna yang berarti hutang moral kepada kepada leluhur, dan
  • Resi Rna berhutang moral kepada Resi atau orang-orang suci atau guru.
  • Hutang moral adalah suatu kesadaran rohani yang menyadari bahwa adanya kehidupan ini karena Yadnya dari Tuhan, leluhur dan orang suci ( Dewa, Pitra dan Rsi). Karena yadnya itulah orang yang memiliki kesadaran moral akan merasa berhutang kepada Dewa, Pitra, dan Resi. Dengan adanya kesadaran moral Tri Rna itu, maka dilakukan Panca Yadnya sebagai wujud rasa bakti kepada Dewa, Pitra dan Rsi.


(Sumber: https://www.gurupendidikan.co.id/)