Membangun Rumah Tangga di atas Pondasi ‘Nikah Afeksional’

Membangun Rumah Tangga di atas Pondasi ‘Nikah Afeksional’

Membangun Rumah Tangga di atas Pondasi ‘Nikah Afeksional’

Membangun Rumah Tangga di atas Pondasi ‘Nikah Afeksional’
Membangun Rumah Tangga di atas Pondasi ‘Nikah Afeksional’

Apabila kita berkendaraan dari Jakarta ke Bandung, atau dari kota satu ke kota lainnya, di seberang pinggir jalan di sebelah kiri akan terlihat ‘patok kilometer’ (‘mile stone’) yang menunjukkan berapa kilometer lagi jarak yang harus kita tempuh untuk sampai pada kota tujuan. ‘Mile Stone’ membantu kita dalam memperkirakan berapa jam lagi waktu yang dibutuhkan untuk sampai pada tempat tujuan dan berapa liter lagi bahan bakar yang dibutuhkan.

Dalam upaya untuk menjalani dan sekaligus meningkatkn kualitas hidup diperlukan adanya ‘sasaran antara’ beserta penetapan waktu atau paling tidak ‘target tentative’ dari peristiwa hidup terpenting, seperti kapan menyelesaikan sekolah, mendapatkan pekerjaan, kapan menikah dan mempunyai anak, melaksanakan ibadah haji dan sebagainya. Penetapan program hidup mukminin dalam kerangka waktu yang dikehendaki (‘time frame’) pada hakekatnya merupakan substansi dari visi hidup yang direntangkan ke depan sampai ke ujung tujuan hidup yakni Khusnul Khotimah.

Nikah bila dilihat sebagai suatu ‘moment utama’ dapat diibaratkan sebagai salah satu patok jarak, yang karena pentingnya orang tidak bisa melewatinya begitu saja. Diperlukan berbagai persiapan jauh sebelumnya, mulai dari menentukan type-pasangan, gambaran rumah tangga yang diidamkan sampai dengan interaksi melalui jaringan silaturahmi baru yang akan dibangun. Lebih dari itu pernikahan adalah sunatullah yang tidak hanya dilakukan oleh manusia tapi dilaksanakan oleh hewan, tumbuh-tumbuhan sampai pada mikro-organisme dalam upaya menyempurnakan hidupnya, mencapai berbagai tujuan hidup yang tidak bisa diraih sendirian termasuk memiliki keturunan.

Diperlukan keikhlasan sikap saling mengerti dan saling menghargai yang lahir dari pengakuan saling membutuhkan dan melengkapi. Rangkaian pasangan laki-perempuan selain terjadi pada mahluk bernyawa, dikodratkan juga pada dzat ciptaan lainnya seperti oxigen dan hidrogen pada air, negatip dan positip pada listrik serta putik berpasangan dengan benangsari pada bunga agar menjadi buah.Masing-masing tidak akan berarti dan berfungsi bila yang satu tidak berinteraktif dengan yang lain dalam format saling berpasangan.

Dalam surat Yasin ayat 36 dan surat Adz Dzariyat ayat 49, Allah swt. berfirman:

“Maha Suci Allah yang telah menjadikan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan di bumi, dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui”.

“Dan dari segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasang supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah”.

Baca Juga :