MASA HAID & MASA SUCI

MASA HAID & MASA SUCI

MASA HAID

Masa haid paling sedikit sehari semalam, dan paling lama lima belas hari, dan yang biasa enam atau tujuh hari.

HANAFI

Menurut mereka masa haid paling sedikit tiga hari tiga malam, dan paling lama sepluh hari sepuluh malam. Jika seorang perempuan telah biasa mengalami haid haid dalam beberapa hari tertentu, kemudian berubah dan bertambah lama dari kebiasaannya, maka tambahan/perubahan itu harus dihitung sebagai masa haid.

Umpamanya seseorag biasanya haid selama tiga hari. Kemudian bertambah menjadi empat hari, maka kebiasaanya berubah menjadi empat hari, yaitu keempat dihitung sebagai hari haid. Begitulah halnya sampai dihitung kesepuluh. Apabila lebih dari sepuluh hari, maka darah yang keluar itu ukan lagi darah haid tetapi darah istihadah. Tambahan lebih dari sepuluh tidak lagi diperhitungkan sebagai masa haid, tetapi kembali seperti biasa.

MALIKI

Menurut mereka tidak ada batas waktu paling sedikit masa haid itu denga membandingkannya dengan ibadah, baik dengan memmandang darah yang keluar dan dengan memandang masa sekalipun darah yang keluar itu hanya segumpal dan dalam waktu sekejap, maka perempuan itu dapat dikatakan haid. Adapun dengan membandingkanya kepada masa ‘iddah dan istibra’, mereka mengatakan masa haid itu paling sedikit satu hari atau setengah hari. Dan tidk ada batas paling lama, karena tergantung dari darah yang keluar. Dan juga tidak dapat ditakari, umpamanya seliter, lebih atau kurang. Sedangkan berdasarkan masa, maka paling lama ditaksir lima belas hari bagi orang permulaan yang belum pernah hamil.

Baca Juga: https://www.pendidik.co.id/nama-bayi-perempuan-islami/

MASA SUCI

Sesingkat-singkat masa suci ialah lima belas hari, dan tidak ada batas waktu terlama atau terpanjang.
Menurut Hanbali, sesingkat-singkat masa suci antara dua kali haid tiga belas hari. Walaupun sudah bersih dari darah ketika masa haid itu, tetapi tetap masih dipandang masa haid. Seandainya pada suatu hari dia mengeluarkan darah dan besoknya dia bersih dari darah, lusa keluar darah pula, dan yang demikian terjadi pada masa haid, maka seluruh hari-hari tersebut dihitung sebagai masa haid.

Tetapi Hanbali berpendapat lain. Mereka mengatakan, jika suatu hari bersih dari darah pada masa haid, maka dia dianggap suci, sekalipun yang terhenti darah hanya satu antara dua hari masa haid, maka dia tetap dipandang suci, dan harus melaksanakan tugas sebagai perempuan-perempuan suci.