Kritik atas Paham Anselmus dari Canterbury

4.1.Gaunilon

            Gaunilon adalah seorang rahib dari Marmoutier dekat Tours. Dia adalah filsuf yang hidup sejaman dengan Anselmus. Gaunilon sungguh tidak setuju dan tidak membenarkan paham yang diajukan oleh Anselmus mengenai eksistensi Allah. Kritikan Gaunilon atas hal itu ditemukan dalam buku Liber Pro Insipiente  dan sebuah pamphlet yang ia tulis. Gaunilon mengemukakan dua keberatannya. Pertama ia menyanggah kehadiran Yang Maha Tinggi yang dapat dipikirkan itu di dalam akal. Kedua, menyangkal penyimpulan eksistensi real Allah diluar pikiran dari eksistensi Allah di dalam akal. Keberatan pertama dilontarkan oleh Gaunilon karena dia melihat bahwa kita tidak memiliki ide yang pasti tentang Allah..[16]

4.2. Thomas Aquinas

            Thomas Aquinas sebagai  teolog dan filsuf menolak paham Anselmus sebagai bukti Filosofis. Paham Anselmus dipandang dapat membahayakan ajaran Gereja. Bagi Thomas, sesuatu yang terdapat dalam pikiran tidak pernah dapat disimpulkan bahwa hal itu harus ada dalam kenyataan.[17]

            Menurut Thomas defenisi nominal Allah bukanlah “Yang tertinggi yang dapat dipikirkan”, melainkan Causa prima (penyebab utama). Allah dilihat sebagai yang Mahakuasa (defenisi religius). Dalam hal ini Thomas mulai memperlihatkan garis perbedaan antara filsafat dan teologi.[18]

  1. Penutup

            Anselmus adalah seorang yang selalu berusaha untuk mencari kepastian dan membela imannya. Karena itu ia berusaha untuk membuktikan eksistensi Allah secara pasti dan benar. Namun tidak diragukan juga dia adalah seorang filsuf yang teguh dan setia pada imannya. Anselmus tidak memberi sumbangan baru atau paham baru mengenai inti iman agamanya. Namun, dalam karya dan pahamnya tentang “Cur Deus Homo “ (mengapa Allah menjadi manusia), orang menjadi mengerti dan sadar akan imannya sendiri.[19]

            Perdebatan mengenai paham Anselmus mengenai Eksistensi Allah masih selalu diperdebatkan oleh para Filsuf. Paham Anselmus tentang Eksistensi Allah ingin dihapus karena dianggap tidak filosofis. Namun ada juga orang yang setia membela dan melihat kebenaran didalamnya. Dengan bantuan Anselmus semuanya itu bermanfaat bagi kita untuk mengambil sikap yang tepat mengenai Allah. Hal ini tercantum dalam Proslogium. Proslogium Anselmus mengatakan bahwa Allah adalah “sesuatu yang daripada-Nya tidak dapat dibayangkan sesuatu yang lebih besar lagi” (aliquid quo nihil maius cogitari possit).[20]

sumber :

https://radiomarconi.com/