Koreksi Geometrik

Koreksi Geometrik

Koreksi citra adalah suatu kegiatan memperbaiki citra landsat yang digunakan supaya benar-benar memberikan informasi yang jelas dan akurat baik secara geometris maupun radiometris. Berdasarkan hal tersebut, kegiatan koreksi citra ini dapat dikatakan sebagai operasi preprocessing (Danoedoro, 1996). Koreksi citra landsat yang dilakukan biasanya terbagi dari dua bagian yakni koreksi geometrik dan koreksi radiometrik.

Pengertian Koreksi Geometrik

Koreksi geometrik merupakan transformasi citra hasil dari kegiatan penginderaan jauh sehingga citra yang diolah tersebut memiliki berbagai sifat peta baik dalam bentuk, proyeksi, maupun skala (Mather, 1987). Hal utama pada koreksi geometrik adalah menempatkan ulang nilai-nilai piksel dengan sama persis sehingga hasil yang diperoleh dari rekaman sensor sesuai dengan obyek di permukaan bumi (Rahman, 2018). Hasil dari transformasi ini adalah adanya perubahan bentuk kerangka liputan dari bentuk bujur sangkar menjadi bentuk jajar genjang.

Menurut Jensen (1986), cara untuk melakukan koreksi geometrik terdiri dari registrasi geometrik dan rektifikasi geometrik. Registrasi geometrik citra merupakan registrasi dari citra yang satu ke citra yang lain dengan menggunakan daerah yang sama yang telah dikoreksi sebelumnya atau sering disebut image to image. Sedangkan reaktifikasi merupakan proses pembuatan citra secara planimetrik berdasarkan peta dengan proyeksi standar yang telah dirujuk ata sering disebut image to map rectification (Rahman, 2018).
Koreksi geometrik melingkupi titik-titik pada citra tertentu yang telah dirujuk ke titik-titik yang sama pada peta. Gabungan titik tersebut selanjutnya digunakan untuk membentuk fungsi matematis yang menjelaskan hubungan antara posisi titik pada citra dengan titik obyek pada peta. Posisi piksel yang dimaksud adalah posisi pusat piksel. Pada koreksi geometrik, harus mempertimbangkan perubahan posisi piksel yang mempengaruhi informasi nilai spektralnya berubah. Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan adanya interpolasi nilai spektral baru selama kegiatan transformasi geometri, sehingga dihasilkan geometri dengan nilai yang baru. Proses interpolasi tersebut biasanya dikatakan resampling. Interpolasi spasial adalah penentuan hubungan geometrik antara letak piksel pada citra dan peta. Pada proses interpolasi spasial dibutuhkan beberapa titik kontrol medan (Ground Control Point/GCP) yang dapat teridentifikasi pada citra dan peta. Apabila persamaan transformasi koordinat diterapkan pada titik-titik kontrol maka diperoleh residual x dan residual y (Rahman, 2018).
Residual merupakan posisi titik yang bersangkutan mengalami penyimpangan terhadap posisi yang didaptkan melalui perubahan koordinat yang kemudian disebut sebagai nilai Residual Means Square Error atau RMS (error). Tingkat keberhasilan dalam tahap ini biasanya ditentukan dengan besarnya nilai ambang RMS (error) total, atau yang dikenal dengan istilah sigma (Rahman, 2018).