Intip Persiapan Mobil Nogogeni dan Sapuangin ITS

Intip Persiapan Mobil Nogogeni dan Sapuangin ITS

Intip Persiapan Mobil Nogogeni dan Sapuangin ITS

Intip Persiapan Mobil Nogogeni dan Sapuangin ITS
Intip Persiapan Mobil Nogogeni dan Sapuangin ITS

Nogogeni V dan Sapuangin XI Evo 2 akan berlaga pada ajang Shell Eco Marathon (SEM)

Asia di Changi Exhibition Centre, Singapura pada Maret mendatang. Dua kendaraan buatan sekira 50 mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember tersebut sudah mengalami perubahan.

Sejumlah perubahan dilakukan. Terutama perombakan di kaki-kaki dan bodi mobil. Alasannya, untuk menciptakan unsur aerodinamika dan penyesuaian menurut regulasi SEM Asia.

Dosen Pembimbing Tim Nogogeni Dedy Zulhidayat Noor mengatakan, perubahan dilakukan pada desain dan dimensi bodi mobil. Badan kendaraan yang semula memanfaatkan bahan kevlar, sudah diganti dengan plastik fiber.
Tim ITS
Tim Nogogeni V melakukan pengecekan mesin sebelum dilakukan uji coba, Senin (12/2). (Aryo Mahendro/JawaPos.com)

Sebagai informasi, kevlar adalah bahan plastik keras dan berat. Biasa digunakan untuk pembuatan badan pesawat terbang. Salah satu kelebihannya, anti peluru. Sementara, kelemahan terletak di bobotnya yang dianggap terlalu berat untuk ukuran mobil balap.

Soal desain, ada perubahan ukuran tinggi, panjang, dan lebar. Semula, Nogogeni dirancang dengan panjang 260 cm

, lebar 124 cm, tinggi 110 cm, dan berbobot seberat 98 kg. Setelah dilakukan perombakan, ukurannya berkurang. Tingginya hanya 260 cm, lebar 120 cm, tingginya 105 cm, dan beratnya 80 kg.

Menurut Dedy, perubahan tersebut bertujuan meningkatkan performanya. Sehingga, kendaraan balap tersebut dapat melaju lebih kencang. Selain itu, desain bodi yang cukup aerodinamis dapat mengurangi drag atau gaya gesek angin terhadap bodi mobil.

“Karena gaya drag itu pengaruhnya ke konsumsi listrik. Jadi kami desain sedemikian rupa agar konsumsi listriknya rendah. Itu tujuan utama kami,” jelas Dedy kepada JawaPos.com, Senin (12/2).

Tak hanya bodi. Dedy dan timnya juga melakukan sejumlah modifikasi. Salah satunya perombakan pada kaki-kaki mobil. Yakni, penggunaan bearing atau ring pada poros ban. Sejumlah ukuran bearing diujicobakan. Tujuannya, sama. Mengurangi friksi atau gesekan saat mobilnya digeber.

Sementara itu, Dosen Pembimbing Tim Sapuangin XI Evo 2 ITS Wityanto juga mengatakan

sudah melakukan sejumlah perubahan. Salah satunya, perombakan mesin mobil yang saat ini menggunakan mesin berbahan bakar bensin. Sebelum dimodifikasi, mobil Sapuangin menggunakan mesin diesel.

Konversi mesin yang dilakukan terhadap Sapuangin tersebut dilatarbelakangi adanya perubahan regulasi. Semua mobil yang berlaga di ajang SEM hanya terbagi dalam tiga kategori berdasarkan jenis tenaga mesin. Antara lain, mesin internal combustion (berbahan bakar bensin), hidrogen, dan listrik.

“Sejak ganti jadi mesin bensin, lawan terberat kami adalah kontestan dari Universitas Indonesia. Karena saat masih pakai mesin diesel, kami ini juaranya,” kata Wityanto.

Namun, diakuinya perubahan jenis mesin tersebut mendongkrak performa mobil. Sejak menggunakan mesin bensin, bobot kendaraan lebih ringan. Konsumsi bahan bakar juga berkurang ketimbang menggunakan mesin diesel.

Saat ini, bobot Sapuangin sudah mengalami pengurangan. Setelah dikonversi, mobil tersebut memiliki berat 100 kg. Lebih berat 20 kg dibanding sebelum menggunakan mesin bensin.

“Jadi itu capaian terbaik kami. Selain itu juga kami lakukan tune up mesin dan desain bodi yang aerodinamis,” jelasnya.

 

Baca Juga :