Table of Contents

Himalayan style

            pemanjatan dilakukan sampai sore, kemudian pemanjat turun ke camp dasar dan pemanjatan diteruskan besok pagi. Tali sampai pitch terakhir ditinggal untuk melanjutkan pemanjatan besok, jadi sebelum leader dan bellayer melakukan pemanjatan mereka akan melakukan jumaring sampai pitch terakhir kemudian baru leader melakukan pemanjatan.

  Kelebihan

«    Cukup dibutuhkan dua orang personil untuk membuka jalur ( leader dan   bellayer )

«    Pemanjat dapat beristirahat dengan nyaman di base camp

«    Satu orang yang sudah mencapai sudah dianggap berhasil

  Kekurangan

«    Butuh banyak peralatan terutama tali, panjang tali disesuaikan dengan              panjang lintasan yang akan dilakukan dalam pemanjatan.

«    Waktu pemanjatan lebih lama.

(UIAA:1992 Mechanical Advantage “hauling”. Profesional Association Climbing Instructur Seehan B.E, Alan).

  1. TEKNIK PANJAT TEBING

Tehnik-tehnik pemanjatan yang dapat digunakan untuk menyelesaikan seluruh medan tebing, antara lain:

  • Face Climbing, Yaitu pemanjatan pada permukaan tebing yang memanfaatkan tonjolan batu(point) atau rongga yang memadai yang digunakan sebagai pijakan kaki, pegangan tangan maupun penjaga keseimbangan tubuh.

4

  • Friction / Slab Climbing, Teknik ini semata-mata hanya mengandalkan gaya gesekan sebagai gaya penumpu. Ini dilakukan pada permukaan tebing yang tidak terlaluvertical, kekasaran permukaan cukup untuk menghasilkan gaya gesekan. Gaya gesekan terbesar diperoleh dengan membebani bidang gesek dengan bidang normal sebesar mungkin. Sol sepatu yang baik dan pembebanan maksimal di atas kaki akan memberikan gaya gesek yang baik, sehingga pemanjatan dapat dilakukan dengan lebih mudah.
  • Fissure Climbing, Teknik pemanjatan dengan fissure climbing ini lebih memanfaatkan celah yang dipergunakan oleh anggota badan untuk melakukan panjatan.

Sumber: https://carbomark.org/