Rumah Translok Bencana Dijual

Kades Membenarkan, Tapi Tak Dilibatkan

translok
IGUN GUNAWAN/JABAR EKSPRES
NGOBROL DI TEPAS: Rumiah (kiri) saat berbincang dengan tetangganya. Ia mengaku rumahnya yang terkena proyek Tol Cisumdawu, dijual oleh seorang tokoh masyarakat.

bandungekspres.co.id, SUMEDANG – Rumah di lokasi transmigrasi lokal (translok) eks bencana alam Dusun Ciherang pada Tahun 2004 di Dusun Ciawilarangan, Desa Ciherang, Kecamatan Sumedang Selatan, menggiurkan para pialang. Pasalnya, lokasi tersebut terlewati proyek pembangunan pembuangan tol (disposal) Cisumdawu ke Desa Mulyasari.

Praktiknya, banyak diantara masyarakat terutama yang usianya sudah lanjut kaolo, oleh tokoh masyarakat yang jadi pialang dadakan. Padahal lokasi translok itu, merupakan tanah negara (tanah kas Desa Ciherang, red.)

Salahsatunya seperti terjadi pada Rumiah. Nenek berusia 80 tahun itu bercerita saat 12 tahun lalu, terjadi bencana alam di Dusun Singkup, Desa Ciherang. Dirinya dan 90 warga lainnya direlokasi oleh pemerintah ke Dusun Ciawilarangan, masih di wilayah desa yang sama.

Di tengah mulai ngabebetah di tempat barunya itu, masalah justru muncul ketika ada proyek pembangunan tol pembuangan disposal ke Desa Mulyasari. Wilayah itu justru terkena proyek tersebut, termasuk rumahnya Nek Rumiah sendiri.

Didapat informasi, penggantian rumah yang terkena proyek pembangunan itu, justru tak membayarnya langsung ke yang tinggal di rumah tersebut. Menurut pengakuan, Nek Rumiah, pembayaran rumahnya melalui tokoh masyarakat setempat. Bahkan anehnya, prakteknya jual beli itu pun konon tak melibatkan pemerintah desa maupun pemilik rumah.

Dipeserna ceunah Rp 25 juta, da ema mah teu narima (dibelinya katanya Rp 25 juta, karena ibu tidak menerima, red.),” kata Rumiah saat ditemui wartawan di kediamannya.

Saat ini, karena rumahnya sudah terjual. Rumiah tinggal di rumah tetangganya, sudah sebelas hari lamanya ia tinggal disana. Ia mengaku tidak kerasan tinggal di tanah translok tersebut. “Teu betah dan leuweung geledegan (tidak kerasan karena di sini hutan, red.),” ujarnya.

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR