Pilkada, Tahun Tebar Janji

bandungekspres.co.id, CIMAHI – Musim Pilkada jadi ajang tebar janji bagi para calon kepala daerah untuk meyakinkan para pemilihnya. Tak terkecuali pada Pilkada Cimahi 2017. Salah satu janji yang santer didengungkan antara lain alokasi dana pembangunan dan pemberdayaan per RW sebesar Rp200 juta.

Janji kampanye ini setidaknya didengungkan kandidat calon Wali Kota dan Wakil Walikota nomor urut 2, Asep Hadad Didjaya-Irma Indriani (Hadir).

Menanggapi janji kampanye tersebut, calon Wakil Wali Kota nomor urut 1 yang juga mantan Wakil Ketua DPRD Koordinator Bidang Anggaran Cimahi, Achmad Zulkarnain (Azul), mengaku janji kampanye seperti itu kurang realistis.

”Kalau dihitung Rp200 juta dikali 312 RW itu sudah berapa. Sementara pembangunan lainnya juga perlu diselesaikan?” Kata Azul dalam siaran pers yang diterima redaksi kemarin, kemarin (30/11).

Azul mengatakan, pemberian dana yang sama setiap RW itu akan menimbulkan ketidakadilan sosial karena kebutuhan masing-masing RW di Cimahi berbeda. Terlebih program bagi-bagi uang seperti itu memungkinkan adanya potensi penyelewengan.

”Nggak mungkin RW-RW yang sudah bagus secara fisik dan segala macamnya dikasih uang. Nanti uangnya dikemanakan? Jadi gak bisa pake cara seperti itu,” ujarnya.

Azul melanjutkan, dirinya bersama Atty Suharti lebih memilih akan memaksimalkan musyawarah warga di tingkat RT/RW untuk menampung usulan dari masyarakat.

Ketimbang membagi-bagi uang, Azul mengatakan lebih memilih akan meningkatkan insentif dan biaya operasional pengurus RW sebagai bentuk penghargaan atas pengabdian sosial.

”Kalau insentif dan biaya operasional itu akan kita tingkatkan. Ya buat ATK, biaya pulsa/internet, dan sebagainya. Agar apa? pengurus RW yang sudah bekerja secara sosial tidak lagi dipusingkan dengan urusan operasional,” kata Azul.

Dirinya mengaku tidak ingin merusak tatanan sosial masyarakat yang sudah terjaga di lingkungan RT/RW Cimahi.  ”Kita tidak ingin merusak tatanan sosial di tingkat RT/RW yang mereka memang bekerja secara sosial. Bukan tenaga pegawai atau karyawan. Mereka adalah pejuang-pejuang sosial,” ujar Azul. (bun/ign)

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR