Ojek Makanan Balita, Layanan Terpadu Pengentasan Gizi Buruk

ojek-makanan-balita
DINDA JUWITA/JAWAPOS
IKLAS MEMBANTU: Kepala UPT Puskesmas Riung, Bandung, Sonny Sondari (kiri) bersama salah satu anggota Omaba, Nining Herningsih (kanan).

Puding Ikan Bandeng Jadi Meu Favorit

Empat tahun lalu, gerakan ibu-ibu yang tergabung dalam kelompok Omaba atau Ojek Makanan Balita lahir. Diprakarsai Kepala UPT Puskesmas Riung, Bandung, Sonny Sondari, gerakan itu bertujuan mengentaskan persoalan gizi buruk.

DINDA JUWITA, Bandung

BERADA di kawasan perumahan penduduk, bangunan UPT Puskesmas Riung terlihat cukup minimalis. Tak beda dengan puskesmas pada umumnya. Lokasinya yang berada di perumahan membuat akses angkutan umum terbatas.

Angkot yang lewat di perumahan tersebut hanya beroperasi hingga magrib. Di puskesmas dua lantai itulah, Sonny Sondari enam tahun mengabdikan diri.

Ibu dua anak tersebut merupakan kepala UPT Puskesmas Riung. Menjadi penduduk asli kawasan Riung dan enam tahun memimpin puskesmas membuatnya sensitif terhadap isu-isu kesehatan di sekitarnya. Silih berganti dia menerima keluhan soal gizi buruk balita. Bahkan, ada pula ibu hamil yang datang ke puskesmas tempatnya bekerja yang juga terkena gizi buruk

Kala itu, setelah mendapatkan laporan penimbangan balita yang rutin diadakan tiap Februari dan Agustus di Puskesmas Riung, Sonny melihat ada 22 balita yang mengalami gizi buruk. Keprihatinan tersebut mengetuk nuraninya sebagai ibu dan seorang dokter. Tak ingin tinggal diam, dia akhirnya menginisiatori program terpadu untuk penanganan gizi buruk pada akhir 2012.

”Ada rasa sense of belonging sebagai warga asli sini (Riung, Red) saat melihat kondisi memprihatinkan tersebut. Kemudian, saya bikin program terpadu. Saya ajak juga ibu-ibu yang ada di sekitar sini untuk ikut,” papar di Puskesmas Riung beberapa waktu lalu.

Tak lama kemudian, pada awal 2013, Sonny membentuk Omaba yang merupakan kependekan dari Ojek Makanan Balita. Ya, program terpadu itu memanfaatkan ojek sebagai sarana utama untuk menangani permasalahan gizi buruk. ”Awal terbentuk Omaba, belum ada konsep yang benar-benar terstruktur. Sebab, yang penting saat itu ada niat, gerak dulu, jalan dulu. Insya Allah nanti hasilnya kelihatan,” tuturnya.

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR