Hafidh Giat Mengajari Kaum Tuli Berbahasa Indonesia

Kisah Pemenang Zetizen National Challenge Go to New Zealand (1)

netizen
PERCAYA DIRI: Gustian Hafidh Mahendra saat sesi penjurian Zetizen Summit 2016. Dia tampil dengan dibantu translator.

Lahir dengan disabilitas fisik (Tuli) tak membuat Gustian Hafidh Mahendra patah semangat. Alpha Zetizen of the Year asal Jogjakarta itu memanfaatkan keterbatasannya dengan mendirikan kelas bahasa Indonesia bagi para penyandang Tuli.

DIANA HASNA – INDRIANI PUSPITANINGTYAS

DI dunia mereka yang sunyi, tulisan merupakan satu-satunya hal yang bisa menghubungkannya dengan dunia luar Jika ingin berkomunikasi, mereka harus bisa menulis dan menyusun kata demi kata menjadi kalimat. Memang ada bahasa isyarat. Tapi, tidak semua orang paham.

Penggunaan bahasa isyarat sering terbolak-balik dengan bahasa lisan pada umumnya. Susunan kalimat SPOK (subjek, predikat, objek, dan keterangan) bisa saja terbalik menjadi objek, predikat, keterangan, dan baru kemudian subjek. Itu menyulitkan penyandang Tuli untuk berkomunikasi. Terlebih pada era sekarang, saat chatting lebih trendi ketimbang berkomunikasi secara langsung. Satu-satunya cara supaya survive di pergaulan ya harus bisa memahami bahasa tulisan dengan baik.

Hafidh memilih kelas bahasa Indonesia karena prihatin melihat kurangnya kemampuan para penyandang Tuli dalam berbahasa Indonesia. Bahkan, banyak temannya yang menganggap menguasai bahasa Indonesia tidak penting. ”Masalah utama teman-teman Tuli itu dalam hal komunikasi. Apalagi, penerapan bahasa isyarat ke dalam bahasa lisan atau sebaliknya bisa menimbulkan makna yang berbeda,” ujarnya dengan menggunakan bahasa isyarat.

Jika tidak mampu move on dan tetap pasrah dengan keadaan, dia pasti akan mengalami diskriminasi dari sekitar. Sebagai seseorang yang sama-sama memiliki keterbatasan, Hafidh paham betul bagaimana sulitnya bergaul jika tidak punya kemampuan komunikasi yang baik. ”Aku pernah di-bully teman sekolahku karena mereka melihatku berbeda dan tidak bisa seperti mereka,” cerita Hafidh yang kami artikan dengan bantuan penerjemah.

Pengalaman pahit tersebut dia rasakan saat duduk di bangku sekolah normal menengah pertama. Saat itu Hafidh yang sejak umur dua tahun hanya mengenyam pendidikan di SLB memang sama sekali tidak terbiasa bergaul dengan orang-orang normal seusianya.

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR